Beranda Ekonomi Alarm Ekonomi Berbunyi! Cicilan Naik, Tabungan Masyarakat Makin Anjlok
Foto : Ilustrasi AI
RADAR BEKASI.ID, JAKARTA – Ruang keuangan masyarakat kian tertekan. Pendapatan konsumen di Indonesia semakin banyak tersedot untuk membayar cicilan, sementara porsi uang yang digunakan untuk konsumsi dan disimpan sebagai tabungan justru menyusut.
Kondisi itu tergambar dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) periode Juli 2026. Di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi turun menjadi 72,7 persen, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 73 persen.
Pada saat yang sama, porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan atau utang naik dari 10 persen menjadi 10,5 persen. Sebaliknya, kemampuan konsumen menyisihkan pendapatan untuk ditabung turun dari 17 persen menjadi 16,8 persen.
BACA JUGA : Jelang HUT ke-81 RI, Wali Kota Bekasi Instruksikan Seluruh OPD Kerja Bakti dan Hias Kantor
“Porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan mengalami peningkatan pada sebagian besar kelompok pengeluaran,” demikian tertulis dalam laporan hasil Survei Konsumen BI, Senin (10/8/2026).
Kenaikan beban cicilan tidak hanya terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Justru, kelompok dengan pengeluaran lebih tinggi turut mengalami peningkatan tajam.
Pada kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta, rasio pembayaran cicilan melonjak menjadi 13 persen dari sebelumnya 11,5 persen. Kelompok pengeluaran Rp3 juta hingga Rp5 juta juga mengalami kenaikan dari 11,4 persen menjadi 12,7 persen.
Tekanan serupa terlihat pada kelompok pengeluaran Rp3,1 juta hingga Rp4 juta yang rasio cicilannya naik menjadi 11,3 persen. Sementara kelompok Rp2,1 juta hingga Rp3 juta meningkat dari 9,2 persen menjadi 10,3 persen.
Hanya kelompok pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta yang mencatat penurunan rasio cicilan, dari 8,2 persen menjadi 7,9 persen.
Namun, penurunan cicilan belum tentu menjadi kabar baik. Sebab, kemampuan kelompok terbawah untuk menabung justru ikut merosot tajam. Rasio tabungan mereka turun dari 17,2 persen menjadi hanya 15,9 persen.
Kemampuan menabung juga melemah pada kelompok pengeluaran Rp3,1 juta hingga Rp4 juta, dari 17,1 persen menjadi 15,8 persen. Kelompok Rp4,1 juta hingga Rp5 juta turun dari 16,9 persen menjadi 15,9 persen.
Di tengah tren tersebut, kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta justru masih mampu meningkatkan porsi tabungan dari 17,6 persen menjadi 18 persen. Kelompok Rp2,1 juta hingga Rp3 juta juga naik dari 15,6 persen menjadi 16,3 persen.
Data ini menjadi alarm bagi kondisi keuangan rumah tangga. Ketika porsi cicilan terus membesar dan ruang menabung menyempit, masyarakat semakin rentan menghadapi guncangan ekonomi. Tabungan yang menipis dapat membuat rumah tangga kehilangan bantalan keuangan saat menghadapi kebutuhan mendadak.
Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan konsumsi saja belum cukup menjadi indikator kuatnya kesehatan keuangan masyarakat. Sebab, di balik aktivitas ekonomi yang tetap berjalan, kemampuan warga menyisihkan uang justru mulai tergerus oleh kewajiban cicilan yang semakin besar.(mif/arj/arj)

4 hours ago
9

















































